SnackQueen
sittirasuna.com
Loading...

Monday, April 12, 2021

Diary One Meal A Day (Day 2-4)

Diary One Meal A Day (Day 2-4)

Sekitar seminggu lalu, aku memulai program one meal a day lagi. Aku merasa aku sudah terlalu gemuk lagi. 😂 Selain itu, sekitar bulan lalu, aku jajannya keterlaluan. Tiba-tiba aku berpikir kalau, hidup ini kan harus dinikmati, jadi kalau ingin makan apa, minum apa, ya makan aja, ya minum aja. Ngga usah kebanyakan berpikir. 😂

Dan memang, saat itu, aku kalau lihat restoran omurice, kok merasa terlihat menarik, langsung masuk ngga pakai berpikir. Ada menu Chicken Nanban di restoran yang menjual masakan khas Miyazaki, aku langsung masuk. Kalau makan dine-in sebenarnya hanya sesekali, yang parah jajan minuman sama roti. Masuk Family Mart, ada roti menarik, ambil, ada cokelat menarik, ambil. 😂 Benar-benar kayak ngga direm.

Sampai akhirnya beratku menjadi 71.1 kg, beratku paling berat sejak Agustus 2020. Oh ya, persis dua tahun lalu, beratku 83 kg. 😂 Jadi sebenarnya sudah lumayan turun sih cuma tetap saja masih berat untuk ukuran tinggi badanku.

Alhamdulillah, teman sepermainanku banyak yang sedang rajin olahraga dan lagi menguruskan badan, jadi sama-sama menyemangati. 😂

Aku pun mencoba one meal a day lagi sejak hari Sabtu minggu lalu (3/4). 

One Meal A Day versi aku tuh ngga ketat sih. Makan besarnya emang sekali, tapi kadang ngemil sedikit dan minum manis. Tapi memang porsi ngemilku turun drastis. 

Hasilnya, dalam seminggu turun 2,6 kg dengan amat sangat mudah. Memang dasar kebanyakan makan aja, jadi direm sedikit langsung turun.

Hari pertama One Meal A Day-ku, aku makan Chicken Nanban yang aku masak sendiri. Di postingan kali ini aku mau mencatat apa yang aku makan di hari kedua hingga keempat.

Makan hari kedua.

Thursday, April 8, 2021

Makan Siang di Cafeteria Renais (ルネ) Kyoto University

Makan Siang di Cafeteria Renais (ルネ) Kyoto University

Aku ngga sekolah di sana sih, cuma karena sekolahku letaknya di dekat Kampus Yoshida Kyoto University, beberapa kali aku suka makan di kantinnya, Cafeteria Renais atau Rune. Dulu, waktu aku sekolah masih kelas tatap muka a.k.a hampir dua tahun lalu.

Aku tiba-tiba kangen makan di sana dan dua minggu lalu aku pergi ke sana. Karena sekolahku sekolah kecil, jadi tidak ada kantinnya. Waktu sekolah di Indonesia pun aku jarang jajan di kantin. Tapi makan di kantin di salah satu universitas terbesar di Jepang tuh menjadi salah satu tempat hiburan buatku. Memang bagiku tempat makan itu sama dengan tempat hiburan.

Hari itu, pagi-pagi aku sudah keluar rumah untuk jalan-jalan lihat sakura yang sudah mekar. Bahkan pukul tujuh pagi aku sudah pergi menuju salah satu tempat melihat sakura paling direkomendasikan di Kyoto: Keage Incline. Aku sering pergi ke sini karena di sana ada Kokoka, Kyoto Kokusai Koryukan, semacam tempat untuk exchange atau berkumpul buat warga lokal dan warga asing yang tinggal di Kyoto.

Tapi aku belum pernah ke sana saat sakura mekar penuh.

Belum lama ini, aku tanya ke dosen pembimbingku, di mana tempat sakura paling bagus di Kota Kyoto. Kata beliau, menurut seleranya, dia paling suka sakura di Keage Incline. Dan emang bagus, tapi baru jam delapan pagi sudah penuh manusia.

Setelah itu, aku mampir ke beberapa kuil dan akhirnya memutuskan untuk pergi makan di kantin Kyoto University. Tapi ternyata baru buka pukul 11.00. Akhirnya aku jalan-jalan di sekitar dan malah beli KFC Twister. 

Tampak depan Cafeteria Renais.

Sunday, April 4, 2021

Finally, I Cooked My Own Chicken Nanban!

Finally, I Cooked My Own Chicken Nanban!

Tartar sauce-nya beli sih, pakai merek Kewpie.

Ngga tahu berapa kali aku menyebut nama Chicken Nanban di dalam blog ini. Chicken Nanban adalah masakan khas Miyazaki, Jepang, berupa ayam goreng yang dilumuri dengan saus nanban dan saus tartar. Beberapa waktu lalu, bento Chicken Nanban 7-Eleven adalah bento konbini favoritku. Sekarang sih aku sudah cukup bosan dengan Chicken Nanban. Cuma kemarin aku melihat tartar sauce botolan merek Kewpie di supermarket, jadi aku beli deh!

Akhir-akhir ini aku suka bikin ayam goreng dengan saus cuka asam manis. Niatnya meniru Chicken Nanban tanpa tartar sauce atau Tori Kurozu-nya Ootoya. Hanya saja karena tidak punya black vinegar, jadinya aku pakai cuka apel yang ada di rumah saja. Tapi baru kemarin ini aku membuat ayam asam manis dengan tartar sauce. Jadi deh, Chicken Nanban!

Chicken Nanban ala ala.

Monday, March 29, 2021

Milo Viral di Jepang, Rasanya?

Milo Viral di Jepang, Rasanya?

Tiba-tiba aku kepengen minum Milo.

Tapi aku teringat dengan info dari seorang teman Jepang kalau Milo di Jepang sedang viral. Bulan lalu, kami mengobrol soal Milo. Aku mengutarakan betapa aku rindu Milo buatan Malaysia dan betapa bedanya rasa Milo Malaysia dan Milo Indonesia.

Ia kemudian bilang kalau di Jepang, Milo sedang viral-viralnya. Bahkan di supermarket pun susah ditemukan. Katanya lagi, menurut tweet-tweet viral Milo itu sangat sehat dan bermanfaat buat tubuh. Aku yang tumbuh besar dengan Milo kayak: Heh? Bukannya Milo itu tidak sehat karena mengandung gula yang sangat banyak? 👀

Mau gulanya seberapa, bodo amat, aku cuma pengen minum Milo.

Benar saja kata temanku, aku mampir ke beberapa supermarket tidak ada Milo tersedia. 

Di rumah di Indonesia, saat aku masih SMA dan kuliah hampir selalu tersedia Milo di rumah. Sekarang sih kayaknya di rumah udah ngga pernah beli. Kami bukan peminum Milo sebenarnya, jarang-jarang minumnya, tapi kalau habis ya beli lagi gitu. Di Indonesia tuh Milo kaya produk sehari-hari dan biasa dikonsumsi banyak orang. Sedangkan di Jepang, Milo tuh bukan produk yang biasa dikonsumsi orang banyak.

Tapi di supermarket bisa menemukan Milo dengan mudah. Milo yang dijual oleh Nestle Japan adalah Milo buatan Singapore. 

Tadinya.

Sejak ada tweet viral tentang Milo tahun lalu, Milo langsung ludes dan bahkan Nestle Japan berhenti menjual Milo dalam beberapa waktu. Sampai akhirnya beberapa hari lalu aku lewat sebuah drugstore dan di bagian promo di bagian luar ada Milo! Akhirnya ada Milo lagi!

Aku langsung membeli Milo saat itu juga. Harganya hampir 400 yen setelah pajak. Sebelum viral, kadang aku beli Milo di Gyomu, supermarket yang menjual produk untuk pemilik usaha sehingga harganya lebih murah. Di sana, Milo hanya 300 yen. Untuk aku yang pelit 100 yen tuh kayak banyak. Tapi di Gyomu masih belum menjual Milo lagi.

Tampak depan Milo Jepang produksi Singapura.

Tampak belakang.

Halal in Kyoto: Mezopotamia Kebab

Halal in Kyoto: Mezopotamia Kebab

Kalau datang ke Jepang sebagai turis, mencari makanan halal menurutku susah-susah gampang. Kalau cari di Google pasti ketemu, tapi pilihannya tidak banyak dan kebanyakan makanan India, Persia, atau Turki. Kalau agak loose sedikit, asal tidak pakai babi sih banyak. Tapi ya, daging yang digunakan tidak bersertifikasi. Atau, kalau tidak pakai daging pun juga pilihan banyak tapi kemungkinan besar mengunakan bumbu dapur yang mengandung alkohol.

Bahkan shoyu atau kecap asin di sini tuh mengandung alkohol, lho. Belum mirin, cooking sake, atau bahan lain yang digunakan. Mau makan sushi yang kelihatannya hanya ikan dan nasi pun juga tidak halal.

Sebagai kota wisata, Kyoto punya banyak warung dan restoran yang menggunakan bahan halal dan juga bersertifikat halal. Ada restoran yang bisa kita temukan di jalan atau gang-gang dekat tempat wisata atau ada beberapa hotel dan restoran yang menyediakan masakan halal. Ada juga yang harus book in advance.

Sebelum pandemi, pilihan makanan halal lebih banyak. Aku ingat ada warung ramen bernama Naritaya dan warung kare Curry Club Ruu Ninenzaka di pusat kota Kyoto yang bersertifikat halal. Tapi sekarang dua warung itu sudah tutup. Mungkin tidak kuat buka karena memang hanya mengandalkan customer muslim yang kebanyakan berasal dari Indonesia dan Malaysia.

Ada warung ramen Ayam Ya, tapi jam bukanya tidak reguler dan banyak libur. 

Salah satu opsi tempat makan halal yang masih buka sampai sekarang adalah Mezopotamia. Ya bukan makanan Jepang sih, tapi setidaknya bisa menjadi opsi teman-teman yang mencari makanan halal saat jalan-jalan di Kyoto.

Mezopotamia merupakan toko kebab ayam halal Turki yang letaknya di Teramachi Shopping Street di Kawaramachi, Kyoto. Di Mezopotamia menjual kebab dengan wrap atau pun kebab dengan nasi. Ada juga es krim Turki dan asesoris seperti gelang dan kalung yang langsung didatangkan dari negara asalnya.

Tampilan depan Mezopotamia.

Wednesday, March 24, 2021

Kalau di Rumah Makan Mulu

Kalau di Rumah Makan Mulu

Hari Minggu seharian aku pergi ke Osaka. Cuma muterin mal di sekitar Stasiun Osaka dan Umeda karena lagi in the mood buat window shopping. Rencana awal pergi ke salah satu shrine favoritku yang letaknya tak jauh dari Stasiun Osaka cuma hari itu hujan deras seharian dan aku ngga punya payung. Aku cuma lihat-lihat toko yang menurutku menarik dan beli barang satu dua. Sempat beli dua buah inari sushi untuk siang hari dan makan set Chicken Nanban di malam hari sebelum pulang ke Kyoto.

Aku sama sekali ngga merasa lapar. Mungkin karena sudah sibuk jalan-jalan dan melihat-lihat toko.

Kemarin Senin juga seharian aku pergi keliling Kyoto. Niatnya pergi ke temple yang agak jauhan tapi tiketnya mahal (ngga googling dulu asal pergi) dan bunga sakura belum mekar banget, mau pergi ke temple next tiba-tiba hujan deras dong, akhirnya ngga jadi turun dari bus. Ngga tahunya setelah lima menit bus jalan, sudah tidak ada hujan lagi dong. 👀

Akhirnya aku memutuskan buat pergi ke Kawaramachi. Kawaramachi tuh semacam area pusat belanja yang banyak pertokoan dan tempat makan. Kalau di Yogyakarta, semacam Malioboro kali ya. Akhirnya aku keliling Kawaramachi sampai malam saja. Senang saja lihat toko-toko lucu di sini. Aku ngga makan di luar, cuma beli kopi dan roti di Family Mart.

Hari ini, aku di rumah seharian.

Kerjaanku makan mulu.

Jus alpukat.


Pisang goreng.

Swiss Miss Unicorn.

Ayam gorengan dengan sweet vinegar sauce dan bihun goreng.

Monday, March 22, 2021

Dulu Cinta, Sekarang Bosan

Dulu Cinta, Sekarang Bosan

Tentu saja, aku mau bahas soal makanan.

Saat tinggal di Australia beberapa tahun lalu, ada satu snack yang aku suka banget. Di Australia itu, di supermarket promo berganti setiap hari Rabu. Sudah gitu, promonya tuh bukan semacam beli dua gratis satu atau diskon 'hanya 5900' kaya di supermarket-supermarket Indonesia. Tapi banyak pilihan produk yang diskon 50% atau kami lebih sering menyebutnya 'half price'.

Kadang-kadang lumayan banget, misal ada sampo harga 20 AUD gara-gara half price jadi cuma 10 AUD. Tapi sih aku lebih sering beli es krim, snack, dan soda pas half price. Dan yang namanya half price tuh sering banget, jadi misal ada soda tertentu half price minggu lalu, minggu ini ngga promo, kemungkinan minggu depan atau bulan depan bakal half price lagi. 

Snack yang biasa aku tunggu-tunggu half pricenya tuh: Grain Waves Sour Cream and Chives.

Foto: Woolworths.

Friday, March 12, 2021

KFC All-You-Can-Eat di Jepang

KFC All-You-Can-Eat di Jepang

Aku sudah tahu kalau KFC punya restoran tabehoudai (食べ放題) a.k.a all you can eat di Tokyo. Tapi pas aku lihat di Lalaport Expocity di Kota Suita, Prefektur Osaka, aku cukup terkejut. Ini berarti aku tidak harus jauh-jauh pergi ke Tokyo buat mencoba pengalaman makan KFC all you can eat!

Tapi aku tidak mencobanya setelah aku melihatnya karena makan all you can eat tuh mikir-mikir ya, sudah ngga murah, kalau lagi ngga lapar kan sayang ya.

Akhirnya kemarin (12/3) aku pergi ke sana! Aku janjian dengan seorang teman yang aku tahu suka banget makan KFC. Sudah gitu, anaknya suka banget makan di restoran all you can eat. Quantity over quality kata dia. Kalau aku sih kurang suka dengan konsep makan di restoran all you can eat, cuma karena ini KFC dan aku anaknya curiosa (ngga deng, btw arti curiosa itu ngga sekadar 'ingin tahu' lho 😂), aku sudah memasukkan KFC all you can eat ini di list 'tujuan wisataku'.

Untuk lunch buffet pada hari kerja di KFC ini harganya 1880 yen sebelum pajak atau sekitar 220 ribu rupiah. Kalau akhir pekan dan untuk dinner buffet harganya beda lagi. Lunch buffet akhir pekan harganya 1980 yen dan dinner buffet baik hari kerja dan akhir pekan harganya 2480 yen. Waktu lunch buffet adalah 80 menit, sedangkan 90 menit. Harga buffet sudah termasuk menu minuman.

Foto sama Kolonel Sanders dulu.

Display-nya menarik banget.

Tampak depan KFC Lalaport Expocity.

Kolonel Sanders versi berdiri.

Snack Queen

Notification
Food is happiness.
Done