SnackQueen
sittirasuna.com
Loading...

Monday, March 8, 2021

Snack Saat Belajar Online

Snack Saat Belajar Online

Minggu lalu, aku join Zoom Class kumpul-kumpul belajar Bahasa Jepang yang diadakan oleh salah satu organisasi non-profit di Pemerintah Prefektural Kyoto. Di acara itu, pelajar-pelajar asing bisa berkumpul dengan mahasiswa/i Jepang dan mengobrol, bertukar informasi dan ide. Sebelum masa pandemi, acaranya diadakan offline, namun sejak tahun lalu berubah menjadi online.

Saat pembuka, host acara tersebut, Yamamoto-san, berkata, “Una-san, kalau sambil makan juga ngga apa-apa loh, ngga usah koso-koso.” Koso-koso itu artinya menyelinap kalau dalam Bahasa Indonesia. Jadi tuh aku sering ngemil saat kelas online dan yang kulakukan adalah mematikan kamera sejenak saat mengunyah dan kemudian menyalakan kamera lagi setelah berhenti mengunyah. Sampai-sampai host acaranya ngeh kalau aku sering mematikan kamera secara berkala cuma karena mau ngemil.

Memang sih acaranya, acara santai. Cuma kok kaya aku doang yang ngemil. Kan malu ya~

Jenis snack yang aku makan saat belajar online sih ganti-ganti tergantung mood. Beberapa jenis snack-ku saat belajar online contohnya ini:

1. Snack asin

Secara pribadi, aku lebih prefer cemilan manis dari pada asin tapi kadang ada kalanya tiba-tiba pengen makan snack asin atau yang jenis ciki-cikian gitu. Snack asin favoritku yang bisa dibeli di konbini (minimarket di Jepang) sih Pringles dan Ebisen produksi Calbee. Ebisen ini merupakan snack rasa udang berbentuk stik. Persis banget sama kerupuk hanya beda bentuk. Love.

Pringles rasa Karaage dan Italian Bolognese.

Thursday, February 25, 2021

3 Minuman Sakura Terbaru

3 Minuman Sakura Terbaru

Ceritanya, aku mau coba sok irit ngga jajan cemilan atau minuman. Kemudian, suatu hari setelah kerja aku jalan kaki menuju rumah. Di jalan pulang, aku mampir Ministop, chain konbini milik Aeon yang letaknya tak jauh dari rumahku. Aku jarang banget ke sini karena ada konbini 7-Eleven yang lebih dekat lagi dengan rumahku. Kalau ke 7-Eleven dua menit, ke Ministop bisa lima menit lah.

Aku rasa banyak turis asing yang datang ke konbini menjadikan konbini sebagai salah satu 'tujuan wisata' mereka. Soalnya aku juga gitu. Tiap pergi ke Jepang, hampir tiap lewat konbini pasti masuk. Seneng aja lihat produk-produk Jepang bermacam-macam variannya, atau yang kalau dijual di Indonesia jadinya mahal banget. Konbini tuh kayak happiest place on earth selain Disneyland. Bahkan sampai aku tinggal di Jepang, ke konbini juga jadi salah satu 'entertainment'-ku. Oya, aku tuh hobi keliling supermarket. Semuanya dilihatin, beli kagak. 👀

Anyway, balik ke cerita ke awal, setelah aku masuk Ministop aku melihat Lipton terbaru rasa Sakura Tea Latte, eh di sebelahnya ada Mt. Rainier Sakura Latte, eh ngga jauh dari situ ada Bubble Tea rasa Sakura merek Emial. Akhirnya aku beli semuanya. Padahal ceritanya lagi sok irit. Kalau lihat minuman rasa sakura, biasanya aku langsung angkut.

Lipton Sakura Tea Latte, Mt. Rainier Sakura Latte, dan Emial Tapioca Sakura Latte.

Nostalgia Permen Ichiban Bersama Tirol

Nostalgia Permen Ichiban Bersama Tirol

Salah satu snek jaman kecil yang aku ingat adalah Ichiban. Kalau rasa sebenarnya lupa-lupa ingat. Yang kuingat permen Ichiban itu adalah cokelat dengan bentuk segi empat kecil dan di dalamnya ada isiannya dan rasa macam-macam. Rasanya senang banget makan Ichiban trus pas digigit cairannya keluar gitu.

Aku ingat beberapa kali beli permen Ichiban dalam jumlah banyak. Saking sebegitunya ketagihan sama cemilan satu ini. Aku mencoba mencari foto Ichiban di internet tapi ngga bisa menemukannya deh. Sudah tidak ada juga kali ya sekarang?

Di Jepang, ada cemilan cokelat yang mirip dengan Ichiban. Namanya Tirol. Aku ngga tahu apakah mereka related sama Ichiban atau engga.

Produk cokelat merek Tirol yang pertama diproduksi dan hingga populer hingga sekarang yaitu cokelat berbentuk batang yang memiliki rasa milk nougat. Tapi, kalau mendengar kata Tirol sih yang aku bayangkan ya cokelat Tirol yang bentuknya seperti Ichiban. Cokelat segi empat kecil-kecil dan rasanya macam-macam.

Tirol memproduksi 'cokelat mirip Ichiban' dengan rasa utama yaitu, milk, stroberi, coffee nougat, dan cokelat. Tapi juga menjual rasa-rasa limited edition atau kolaborasi dengan produk merek lain. Tirol pernah menjual 'cokelat mirip Ichiban' hasil kolaborasi dengan kedai kopi terkenal di Jepang, Komeda Coffee. Saat ini yang tersedia di konbini, selain rasa utama, adalah Tirol rasa Pablo Cheese Tart dan rasa chocolat framboise a.k.a cokelat rasberi.

Aku ngga pernah tertarik beli Tirol karena 'cuma' rasa cokelat, stroberi, atau milk. Aku kayaknya pernah makan yang milk dan ngga suka. Kadang-kadang suka ada limited edition, rasanya rasa kinako atau pernah lagi rasa mochi, duh males makannya. 😂 Selain itu harganya ngga murah. Untuk satu buah Tirol rasa utama harganya 22 yen atau sekitar 3000 rupiah. Sedangkan Tirol limited edition harganya 46 yen atau 6000 rupiah. Padahal tambah duitnya dikit sudah bisa dapat cokelat yang jauh lebih besar.

Cuma kemarin aku mampir konbini dekat rumah dan memutuskan beli Tirol rasa Pablo Cheese Tart dan rasa framboise. Yang rasa framboise emang tertarik sih soalnya bungkusnya sangat elegan bikin penasaran. Apalagi produk-produk rasa framboise di Jepang yang pernah aku coba tuh ngga pernah fail. Kalau yang Pablo aku ngga terlalu minat tapi coba aja lah ya. 😂

Tirol Pablo Cheese Tart dan Tirol Premium Chocolat Framboise.

Wednesday, February 24, 2021

Starbucks' Strawberry Mousse + Sakura Chiffon Cake

Starbucks' Strawberry Mousse + Sakura Chiffon Cake

Setelah hari Selasa (16/2) minggu lalu, aku pergi ke Starbucks. Hari Minggunya aku pergi ke Starbucks lagi. 😞 Kesenengan Starbucks-nya deh, kelarisan gue.

Temanku yang memaksaku untuk pergi ke Starbucks hari Minggu (14/2), mengajakku lagi ke sana karena dia penasaran minuman Starbucks edisi sakura. Kami janjian hari Minggu (21/2) tapi ternyata hari Sabtunya dia sakit dan dia bilang minggu depannya saja. Kenyataannya saat aku jalan kaki hendak pulang kerja, ia menyapaku di DM, "Jadi meeting point kita di mana?"

Perasaan situ kemaren sakit deh. Mungkin pergi ke Starbucks tuh kayak rumah sakit buat dia. 😑

Sakura Berry Frappucino dan Strawberry Pink Mousse White Mocha.

Thursday, February 18, 2021

Sakura Season in Starbucks

Sakura Season in Starbucks

Saat aku belanja di Plaza, di sana dijual kopi bubuk Starbucks edisi Spring rasa Sakura Strawberry Latte. Tapi gojag-gajeg (jw. ragu-ragu), soalnya aku punya budget constraint. ðŸ˜Ē Kapan ya aku ngga punya itu? Trus aku lihat di Starbucks seberang Plaza sedang menjual minuman limited edition rasa sakura. Akhirnya aku ngga jadi beli Starbucks di Plaza. Tapi malah jadi nongkrong di Starbucks. 😄

Katanya punya budget constraint... Seringnya sih aku kalau jajan sedikit-sedikit. Kadang bisa juga seminggu ngga mengeluarkan uang atau jajan sama sekali, tapi kalau udah niat jajan, pol-polan jajannya. 👀 Apalagi lagi musim rasa sakura, aku tuh ngga bisa banget mengabaikan rasa sakura. Terutama minuman. Kalau cemilan kemasan sih misalnya Kitkat rasa sakura atau yang lain sih, tidak selalu tertarik.

Padahal aku pernah menulis kalau aku beli Starbucks jarang-jarang. Kenyataannya baru hari Minggu lalu (14/2) aku pergi ke Starbucks. Itu pun karena temanku maksa-maksa sih. Hari itu aku beli Caramel Frappucino. Ngga enak. Hari itu, menu limited editionnya masih bertema Hojicha. Aku ngga pernah tertarik minum Hojicha pakai susu. Hojicha tuh paling enak ya sono mama ããŪãūãū (kayak gitu apa adanya). 

Trus pergi ke Starbucks lagi hari Selasa (16/2), menu limited edition-nya sudah ganti ke sakura aja. Limited banget time-nya! Sengaja banget Starbucks mempengaruhi psikologi cewek-cewek ngga kuat 'limited edition', supaya penasaran dan beli lagi dan beli lagi. Aku termasuk juga. 👀 Sudah gitu, gambar desain menu terbarunya selalu ciamik, jadi pengen beli aja gitu. 😌

Menu minuman sakura tahun ini, Sakura Berry. Foto: Starbucks Japan.

Wednesday, February 17, 2021

Plaza Shopping 16/2/2021

Plaza Shopping 16/2/2021

Di Jepang, ada toko zakka 雑čēĻ bernama Plaza. Zakka tuh apa ya. Kalau lihat terjemahan sih: miscellaneous goods. Dalam Bahasa Inggris, bisa dibilang zakkaten 雑čēĻåš— atau toko zakka itu variety store. 

Plaza ini menjual macam-macam jenis barang. Ada kosmetik, payung, stationery, snek, dan lain-lain. Barang-barang yang dijual mostly packaging-nya menggugah iman untuk tidak belanja. Menarik-menarik dan cute. Kalau pergi ke Plaza rasanya pengen beli semua. Aku pernah lihat totebag warna silver dan emas metalik itu menarik banget! Tapi mahal banget jadi ya ngga beli. Buat apa juga sih. 😄

Snek yang dijual di Plaza kebanyakan produk impor. Ada juga produk buatan Jepang yang bahkan aku ngga sadar itu buatan Jepang. Ada satu cheetos, semua tulisan di bagian depan kemasan full Inggris. Sampai aku lihat produsennya, ternyata Jepang! Kirain impor. Sempat mau beli karena rasa Chicago Pizza, penasaran, cuma tulisannya kok: cheese flavored snacks. Yang berarti rasa kejunya 'mungkin' mendominasi, jadi ngga deh. Aku kurang suka cheetos rasa cheese.

Kemarin, abis pulang kerja aku pergi ke Aeon Mall dan belanja di supermarket. Kemudian aku lewat Plaza dan cemilan-cemilan di raknya kayak melambaikan tangannya minta dibeli. "Tolong beli aku, tolong beli aku." Gitu. Apa sih. 👀

Yang pertama aku lihat sih M&M's. Aku ngga pernah kepengen makan M&M's tapi lihat itu kok tertarik. Setelah melihat harganya lagi makin tertarik karena cuma: 151 yen, kira-kira 20 ribuan. Not bad, beli ah. Akhirnya jadi beli macam-macam.


1. Vermeiren Speculoos Traditional Cranberry Cherry 345 yen

Sering lihat merek ini tapi baru lihat ini yang rasa cranberry cherry. Langsung beli deh. Yang rasa speculoos biasa ngga pernah beli karena lebih sering beli Lotus. Ini enak. Biskuitnya crunchy dan rasa cranberry cherry-nya ngga yang dominan gitu sih lebih ke hint-hint aja. Tapi jadinya oke, kaya misterius gitu. 😂

2. Hershey's Sprinkles 'N' Creme 194 yen

Alasan beli ini ya karena lucu aja warna-warni dan harganya ngga begitu mahal. Hershey's edisi ini sebenarnya ada tiga, Cookies 'N' Mint sama satu lagi Strawberry 'N' Creme. Katanya tuh dibikin dengan inspirasi rasa-rasa eskrim. Kalau yang Sprinkles 'N' Creme ini rasa 'birthday cake'.

Setelah kubuka, wangi banget. Mirip bau susu rasa French Vanilla-nya salah satu produk di Indonesia deh kayaknya. Baunya tuh familiar tapi ngga yakin bau apa. Trus ada kelihatan warna-warni mesesnya. Rasanya... kayak makan gula disendokin. 😂 Manis banget. Meski begitu, enak sih. Apalagi ada crunchy-crunchy dari mesesnya.

Hershey's ini buatan Malaysia.

3. Lion Coffee Sakura 140 yen

Karena aku suka rasa cherry dan almond, kalau lihat rasa cherry atau sakura (cherry blossom), pasti bawaannya pengen beli. Drip coffee satu ini murah juga, jadi langsung angkut.

Lion Coffee ini produk Hawaii. Awalnya didirikan di Ohio, tapi kemudian pindah ke Hawaii supaya bisa memproduksi kopi lokal Amerika. Hari ini aku udah minum ini dan loveee. Rasa sakuranya persis sama sirup almond. Kopinya light, rasa sakuranya juga light, tapi tetep enak. Karena aku bukan coffee lover, lebih ke pecinta kopi yang dimasukin susu banyak dan gula 😂, jadi baru setengah minum kopinya abis itu kutuang susu. 

Enak.

4. Nestle Damak Pistachio 183 yen

Beli ini bukan karena pistachio-nya tapi lebih karena penasaran sama rasa cokelat buatan Turki. Dalam Bahasa Turki, ternyata 'damak' artinya 'taste'. Pistachio pada cokelat ini diproduksi di daerah Gaziantep, Turki. Belum tahu rasanya, belum kumakan.

5. M&M's Caramel 151 yen

Ngga ingat aku sama rasa M&M's. Katanya sih beda banget sama Chacha. 😂 Trus aku coba ini, cokelatnya biasa saja sih. Trus karamelnya tuh ada di tengah gitu, jadi baru berasa kalau cokelatnya sudah habis kan. Karamelnya enak banget. Keras tapi chewy gitu. Aku suka karamel dan karamel di M&M's ini termasuk karamel yang oke sih.

6. Hershey's Cookies 'N' Mint

Ini masih saudaranya Sprinkles 'N' Creme. 

Aku tuh suka banget rasa mint. Salah satu es krim favoritku tuh es krim rasa mint chocolate chip-nya. Meskipun rasa mint tuh sebelas dua belas sama rasa pasta gigi. Makanya aku jadi penasaran sama cokelat ini. Warnanya ijo gitu lagi. Belum coba sih.

Ngga ada ekspek sama rasanya juga. Kemarin di tempat kerja ada yang bagi-bagi cokelat Hershey's Kisses dalam rangka hari Valentine. Menurutku kok ngga enak. 😂 Tapi coba yang Sprinkles 'N' Creme kok enak. Tergantung jenis cokelat sama mood lidahku kali ya. 😄

Sekian laporan belanjaanku di Plaza. Kapan-kapan (baca: besok) jajan lagi.

Tuesday, February 16, 2021

My Valentine's Chocolate #2: Chocolat a la Flamme

My Valentine's Chocolate #2: Chocolat a la Flamme

Di tempat kerja, ada seorang rekan kerja, ibu-ibu yang aku taksir umurnya sekitar 60-an tahun. Di shift kami yang sangat sibuk, kadang-kadang kami menyelipkan percakapan. Karena tahu aku orang asing, ibu ini suka memberikan informasi mengenai tempat wisata atau belanja di Kyoto, sejarah di Jepang, atau sampai ulasan mengenai produk terbaru konbini tempat kerja kami.

"Kimura-san, biasanya ngapain kalau Valentine?" sekitar dua minggu lalu aku bertanya kepada ibu ini.

Ia pun bilang kalau paling-paling ia hanya makan cokelat. Lalu kemudian dia dengan excited-nya memberitahuku tentang salah satu produk cokelat yang hanya dijual menjelang hari Valentine. Dia bilang, nama produk cokelatnya adalah Honoo no Chokoreeto, produksi Ginnobudou. Selain itu, cokelat ini cepat banget sold out-nya. Sudah gitu kalau beli antre panjang. Dia bahkan menyebutkan statistik, berapa cokelat yang terjual dalam satu periode. Tapi aku lupa. 😂 Katanya lagi, cokelat ini enak banget. Dia juga bilang, cokelat ini bakal dijual di chain konbini tempat kerja kami, tapi di toko kami tidak akan tersedia.

"Nanti aku cari di Google," begitu kataku. Kenyataannya aku lupa terus. Ditambah kurang minat kalau harus beli produk yang kalau mau beli aja susah. 😂 Trus aku lupa saja sama cokelat itu. Sampai akhirnya hari Valentine pun tiba.

Kemarin aku kerja tepat hari Valentine. Kali ini aku kerja di toko lain dalam chain konbini yang sama. Aku tidak langsung pulang karena makan siang di toko dan aku ingin membeli sesuatu. Ada satu kue tradisional Jepang (wagashi) bernama Kintsuba yang mirip yangko khas Kotagede dan aku penasaran banget.

Lalu aku tiba di rak bagian depan persis setelah pintu masuk toko. Di rak depan terdapat bermacam-macam cokelat yang memang dijual dalam rangka hari Valentine. Cokelat Morozoff dan Godiva yang tadinya berjajar di sana sudah terjual semua. Ada Mary's masih satu kotak dan ada tiga kotak kecil berwarna pink yang setelah aku lihat judulnya: Honoo no Chokoreeto.

Eh! Ini kan cokelat yang Kimura-san sebut dua minggu lalu. Ternyata dijual di toko tempat kerjaku satu lagi. Harganya 648 yen sekitar 80 ribu rupiah untuk dua buah. Cukup mahal tapi tidak terlalu buruk lah. Selain itu, cukup berat cokelatnya, makin bikin penasaran.

Saat membayar di kasir, yang mana pekerjanya adalah rekan kerjaku sendiri, ia menawarkan gift bag khusus cokelatnya. Aku harus loading, ngapain pakai gift bag? Akhirnya aku tersadar, "Oh iya ya, kan Valentine." Sayangnya, cokelatnya buat aku makan sendiri. Jadi buat apa gift bag. 😞

Sampai rumah, aku pun langsung mencoba Honoo no Chokoreeto ini.

For special day. Every day is special day. 







Monday, February 15, 2021

My Valentine's Chocolate #1: Leon by Morozoff

My Valentine's Chocolate #1: Leon by Morozoff

Di Jepang, hari Valentine berarti cokelat. Bukan bunga mawar, bukan beruang teddy, atau artwork handmade. Tapi cokelat. Cokelat. Cokelat is everywhere.

Beberapa hari sebelum hari Valentine (10/1), aku iseng pergi ke Takashimaya. Tak dinyana, di sana sedang ada pameran cokelat bertajuk 'Amour de Chocolat'. Aku yang kepo sekaligus kebanyakan waktu luang, tanpa berpikir langsung pergi ke lantai pameran itu diadakan. Banyak sekali stand toko cokelat yang ada. Sebagian merek bisa ditemukan di lantai basement Takashimaya, sebagian lagi tidak. Bahkan ada beberapa merek cokelat yang cukup membuatku terpana. 😔

Beberapa merek cukup mudah ditemui seperti Morozoff, Mary's, Godiva, tapi ada juga Bvlgari -yang bahkan aku baru tahu dia jualan cokelat-, sekolah kuliner Le Cordon Bleu pun juga ada stand-nya lho. Cokelat khas Hokkaido, Royce, dan beberapa produk oleh-oleh Hokkaido dari Rokkatei juga ada. Ada merek-merek Eropa juga yang aku belum pernah mendengarnya. Ada juga yang menjual cokelat dengan bentuk yang unik seperti dinosaurus, atau hasil kolabo dengan merek terkenal seperti Volkswagen, Pokemon, dan Moomin. Sayangnya cokelat favoritku, See's Candies, tidak ada.

Harganya pun bervariasi. Ada yang relatif murah, ada yang mahalnya kayak sembarangan kasih harga. Cokelat merek Mary's atau Morozoff termasuk murah. Mereka masih menjual satu boks cokelat dengan isi lebih dari 20 buah dengan harga sekitar 1000 yen. Di stand lain, beberapa juga menjual cokelat unik dengan harga 200 yen-an. Tapi banyak juga produk yang harganya lumayan mahal. Seperti cokelat di Le Cordon Bleu harganya sekitar 3000 yen untuk lima buah cokelat. Yang paling ngaco sih Bvlgari, jual cokelat kecil-kecil isi 10 buah, harganya 11000 yen. Sudah gitu antrenya panjang dan banyak pilihan produk yang sudah sold out. 😓 

Aku yang tadinya hanya berniat melihat-lihat saja. Akhirnya membeli juga.

Awalnya, aku ingin membeli cokelat kalau saja ada cokelat yang isinya toffee. Aku tuh suka banget cokelat dengan isian toffee. Karamel tapi keras, milkybuttery, dan nutty gitu. Tapi aku tidak menemukan. (Atau malas bacanya karena banyak pilihan). Lalu kemudian aku melihat stand Morozoff.

Morozoff ini salah satu merek cokelat yang cukup terkenal di Jepang. Meskipun namanya nama asing, Morozoff ini merek asli Jepang. Ya, pendirinya imigran Rusia bernama Morozoff, sih. Usut punya usut, Morozoff ini merupakan perusahaan pertama yang memperkenalkan hari Valentine ke Jepang. Aku rasa Morozoff sangat berhasil sih, terbukti hampir semua orang Jepang dengan serius dan khidmat merayakan hari Valentine.

Beberapa waktu lalu, seorang teman memintaku untuk membelikan cheese cake di Morozoff. Cheese cake dengan diameter 17 cm, tebak berapa harganya? Cuma 1000 yen atau sekitar 135 ribu rupiah. Untuk ukuran Jakarta saja itu relatif murah, apalagi di Jepang? Kata temanku rasanya lumayan. Ngga tahu lumayan versi dia itu kayak apa.

Cokelat produksi Morozoff pun harganya sangat terjangkau dan cukup ramah untuk kantongku.

Aku membeli cokelat Morozoff 'Leon' kemasan lima buah seharga 648 yen atau sekitar 80 ribu. Aku memutuskan membeli Leon karena ada rasa cherry-nya. Aku love cherry

Di Jepang, hari Valentine berarti cokelat. Yang mana, para perempuan memberikan cokelat kepada para laki-laki. Bukan sebaliknya. Laki-laki memberikan cokelat ke perempuan, satu bulan kemudian, alias 14 Maret, alias White Day.

Sedangkan aku? Beli cokelat buat aku sendiri. 👀 Padahal, Leon yang aku beli ini dipasarkan sebagai hadiah yang tepat untuk laki-laki yang fashionable, spesial, dan sophisticated. Makanya, kemasannya pun berwarna cokelat, tidak cute sama sekali.

Bodo amat.

Maaf ada rambutnya. Kemasan Leon sangat elegan ya. Tidak cocok dengan kepribadianku.



Dari kiri ke ke kanan: Cafe au lait, sweet chocolate, cherry heart, kirsch, dan milk chocolate.

Snack Queen

Notification
Food is happiness.
Done