My Valentine's Chocolate #2: Chocolat a la Flamme - SnackQueen
sittirasuna.com
Loading...

Tuesday, February 16, 2021

My Valentine's Chocolate #2: Chocolat a la Flamme

Di tempat kerja, ada seorang rekan kerja, ibu-ibu yang aku taksir umurnya sekitar 60-an tahun. Di shift kami yang sangat sibuk, kadang-kadang kami menyelipkan percakapan. Karena tahu aku orang asing, ibu ini suka memberikan informasi mengenai tempat wisata atau belanja di Kyoto, sejarah di Jepang, atau sampai ulasan mengenai produk terbaru konbini tempat kerja kami.

"Kimura-san, biasanya ngapain kalau Valentine?" sekitar dua minggu lalu aku bertanya kepada ibu ini.

Ia pun bilang kalau paling-paling ia hanya makan cokelat. Lalu kemudian dia dengan excited-nya memberitahuku tentang salah satu produk cokelat yang hanya dijual menjelang hari Valentine. Dia bilang, nama produk cokelatnya adalah Honoo no Chokoreeto, produksi Ginnobudou. Selain itu, cokelat ini cepat banget sold out-nya. Sudah gitu kalau beli antre panjang. Dia bahkan menyebutkan statistik, berapa cokelat yang terjual dalam satu periode. Tapi aku lupa. ๐Ÿ˜‚ Katanya lagi, cokelat ini enak banget. Dia juga bilang, cokelat ini bakal dijual di chain konbini tempat kerja kami, tapi di toko kami tidak akan tersedia.

"Nanti aku cari di Google," begitu kataku. Kenyataannya aku lupa terus. Ditambah kurang minat kalau harus beli produk yang kalau mau beli aja susah. ๐Ÿ˜‚ Trus aku lupa saja sama cokelat itu. Sampai akhirnya hari Valentine pun tiba.

Kemarin aku kerja tepat hari Valentine. Kali ini aku kerja di toko lain dalam chain konbini yang sama. Aku tidak langsung pulang karena makan siang di toko dan aku ingin membeli sesuatu. Ada satu kue tradisional Jepang (wagashi) bernama Kintsuba yang mirip yangko khas Kotagede dan aku penasaran banget.

Lalu aku tiba di rak bagian depan persis setelah pintu masuk toko. Di rak depan terdapat bermacam-macam cokelat yang memang dijual dalam rangka hari Valentine. Cokelat Morozoff dan Godiva yang tadinya berjajar di sana sudah terjual semua. Ada Mary's masih satu kotak dan ada tiga kotak kecil berwarna pink yang setelah aku lihat judulnya: Honoo no Chokoreeto.

Eh! Ini kan cokelat yang Kimura-san sebut dua minggu lalu. Ternyata dijual di toko tempat kerjaku satu lagi. Harganya 648 yen sekitar 80 ribu rupiah untuk dua buah. Cukup mahal tapi tidak terlalu buruk lah. Selain itu, cukup berat cokelatnya, makin bikin penasaran.

Saat membayar di kasir, yang mana pekerjanya adalah rekan kerjaku sendiri, ia menawarkan gift bag khusus cokelatnya. Aku harus loading, ngapain pakai gift bag? Akhirnya aku tersadar, "Oh iya ya, kan Valentine." Sayangnya, cokelatnya buat aku makan sendiri. Jadi buat apa gift bag. ๐Ÿ˜ž

Sampai rumah, aku pun langsung mencoba Honoo no Chokoreeto ini.

For special day. Every day is special day. 







Honoo no Chokoreeto ็‚Žใฎใƒใƒงใ‚ณใƒฌใƒผใƒˆ berarti 'cokelat api' atau 'chocolate flame'. Ginnobudou menggunakan Bahasa Prancis untuk nama produknya: Chocolat a la Flamme. Memang berkesan lebih oshare (fashionable) sih ya kalau pakai Bahasa Prancis.

Honoo no Chokoreeto mengandung 35% Sumibi Chocolat ็‚ญ็ซใ‚ทใƒงใ‚ณใƒฉ atau cokelat arang. Sumibi chocolat ini berasal dari couverture yang dibuat dengan memanggang biji kakao dengan arang, sehingga rasa cokelatnya lebih rich. Katanya sih cuma Ginza Budonoki atau Ginnobudou yang menggunakan cokelat arang ini. 

Harusnya makannya pakai sendok tapi aku malas jadi langsung kupencet saja supaya keluar dari cup-nya. Rasa cokelatnya rich, enak, tapi biasa saja lah. Maksud aku, cokelat lain juga enak. Susah banget ya mengulas makanan, adanya enak sama biasa saja. ๐Ÿ˜‚

Tapi! Yang bikin enak itu teksturnya. Kayak makan chocolate truffle cake tapi bukan cake. Kayak ganache tapi bukan krim atau icing cokelat. Kayak souffle tapi lebih creamy dan rich. Kayak makan es krim tapi ngga dingin. Cokelatnya itu fluffy dan seolah-olah meleleh di mulut. Setelah merasakan, aku baru paham 'enaknya' Honoo no Chokoreeto itu di mana. Honoo no Chokoreeto ini menurutku produk cokelat yang kamu pengen makan lagi sih selanjutnya. Repeat? Absolutely. Tapi kudu nunggu tahun depan. ๐Ÿ‘€

Aku baru makan satu dan masih ada satu lagi. Kata buklet kecilnya kalau dimasukkan kulkas, bakal lebih enak lagi. Masukin kulkas dulu ah.

Kalau lagi jalan-jalan ke Tokyo pas musim-musim menjelang hari Valentine, kudu beli ini sih.

Update: saat aku menulis update ini (15/1), aku kepikiran beli Honoo no Chokoreeto buat si ibu teman kerjaku itu. Aku pikir mungkin aku bisa membeli di 7-Eleven yang aku lewati. Ternyata tidak ada. Mungkin sold out. Ya udah. Eh sampai tempat kerja, si ibu memberikanku Honoo no Chokoreeto dong! Aku kaget banget. Kepikiran mau kasih, malah dikasih.

Aku girang banget. Trus dia bilang, "Ngga usah seneng banget gitu deh." ๐Ÿ˜‚

Aku ngga bilang lah kalau aku awalnya mau membelikan dia. Senangnya aku tuh ngga cuma karena dapat cokelat Valentine dari ibu ini tapi juga amazed karena mau kasih kok malah dikasih. ๐Ÿ˜‚

Share with your friends

5 comments

  1. WAKAKAKA pas baca awal udah terasa ini 2 org mau beli buat satu sama laen. Beneran ternyata. Yg ini pait apa manis? Jadi kepengen nyobain. Spertinya lembut trus semi creamy. Kayanya lebih cocok kasi ke cowo yg beginian ya drp full coklat. Kalo kue lebih ketelen kali ya? XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk, destiny. Manisss tapi cokelatnya bold gitu, jadi enak. Lembut banget, enak. Harus cobain. Tapi harus ke Jepang bulan Januari - Februarian, hahaha. Mungkin lebih cocok hahaha, gatau juga.

      Delete
  2. Mbok pangan dewean Un?

    Akunnya pake anonim gak bisa yak

    ReplyDelete

Notification
Food is happiness.
Done